sakuntalla


Tentang Penelitian
April 11, 2008, 12:11 pm
Filed under: Article

Berdasarkan pertanyaan dalam penelitian, dapat dibedakan dua macam penelitian, yaitu penelitian deskriptif (descriptive) dan penelitian eksplanatoris (explanatory). Penelitian deskriptif menggambarkan suatu fenomena secara detail. Penelitian ini menjawab pertanyaan apa (what). Sedangkan penelitian eksplanatoris adalah menjelaskan suatu fenomena sosial khusus tentang mengapa (why) dan bagaimana (how) sesuatu terjadi.

 

I. Penelitian Eksplanatoris

Tujuan dari penelitian sosial adalah untuk memahami masyarakat. Salah satu bentuk pemahaman adalah dengan mengetahui mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi dalam masyarakat. Disamping pemahaman, eksplanasi erat kaitannya dengan prediksi. Berdasarkan penelitian eksplanatoris, dapat diprediksi terjadinya sesuatu dalam masyarakat. Obyek eksplanasi dan prediksi adalah sama. Prediksi melihat sesuatu sebelum terjadi sedangkan eksplanasi sesudah terjadi.

Eksplanasi dan prediksi dibentuk oleh teori-teori yang menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Teorisasi adalah suatu proses melakukan eksplanasi dan prediksi tentang suatu fenomena sosial.

 

II. Teori

Terdapat berbagai konsepsi tentang teori. Sosiolog klasik menyebut teori sebagai suatu kumpulan pernyataan yang tidak dapat diuji. Dalam keseharian teori memiliki dua makna. Pertama adalah eksplanasi yang mungkin tetapi tidak dapat diuji. Namun bagi ilmuwan sosial walaupun tidak dapat diuji tetapi memiliki potensi untuk diuji. Kedua adalah sesuatu yang tidak praktis.

Komponen dasar dari teori adalah konsep-konsep dan variabel-variabel yang terkait dalam suatu pernyataan yang disebut proposisi. Proposisi dapat berupa sebuah aksioma, postulat, theorem, generalisasi empiris, atau sebuah hipotesa. Seperangkat proposisi yang saling berhubungan membentuk teori. Namun mungkin pula suatu teori terdiri dari satu proposisi tunggal.

 

A. Konsep dan Variabel

Semua eksplanasi berisi konsep-konsep dan variabel-variabel. Konsep adalah bayangan mental yang sederhana, atau suatu persepsi. Konsep dapat berupa sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung, seperti keadilan atau cinta. Namun konsep juga dapat berupa sesuatu yang dapat diamati langsung seperti “pohon” atau “merah”.

Di sisi lain, banyak konsep yang terdiri dari beberapa kategori, nilai, atau subkonsep, yang sering berada dalam dimensi atau rentang yang dapat disadari. Konsep yang dapat diterapkan pada lebih dari satu nilai dalam rentang tertentu disebut dengan variabel. Sedangkan konsep yang yang memiliki nilai tunggal dan tidak pernah berubah, disebut dengan constan.

 

B. Proposisi

Setelah konsep-konsep dasar diformulasikan, langkah konstruksi teori selanjutnya adalah menuliskan satu atau lebih proposisi. Proposisi secara umum adalah suatu pernyataan sederhana tentang satu atau lebih konsep-konsep atau variabel-variabel. Proposisi yang membahas satu variabel disebut univariate. Proposisi yang membahas hubungan dua variabel disebut bivariate. Jika lebih dari dua variabel disebut multivariate.

Proposisi multivariate biasanya dapat dituliskan menjadi dua atau lebih proposisi bivariate. Contohnya, proposisi “kepadatan penduduk berhubungan dengan tingkat buta huruf dan kecanduan narkoba” dapat dituliskan (1) semakin tinggi kepadatan, semakin tinggi tingkat buta huruf, dan (2) semakin tinggi kepadatan, semakin tinggi tingkat kecanduan narkoba. Kebanyakan proposisi dalam penelitian sosial adalah bivariate.

Suatu variabel (X) dikatakan berhubungan dengan variabel lain (Y), jika suatu perubahan terhadap X diikuti oleh perubahan Y, demikian sebaliknya. Variasi hubungan variabel tersebut disebut dengan variasi concominant atau korelasi (correlation).

 

C. Tipe-Tipe Proposisi

Jika konsep-konsep adalah pembentuk (building blocks) proposisi, maka proposisi-proposisi adalah yang membentuk teori. Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa subtipe dari proposisi-proposisi adalah hipotesis, generalisasi empiris, aksioma, postulat, dan theorem.

 

1. Hipotesis

Terdadap dua proposisi yang lebih sering digunakan sendirian dari pada kombinasi dengan poposisi lain, yaitu hipotesis dan generalisasi empiris. Suatu hipotesis merupakan sesuatu yang dinyatakan dalam bentuk yang dapat diuji dan memprediksi suatu hubungan tertentu dari dua atau lebih variabel. Jika kita melihat adanya suatu hubungan, lalu kita menetapkan sebuah hipotesis dan kemudian mengujinya.

Dalam tulisan ini hipotesis digunakan dalam arti suatu eksplanasi sementara yang karenanya dibutuhkan pengujian bukti-bukti yang secara potensial dapat dilakukan. Definisi ini mengecualikan semua pernyataan yang lebih merupakan opini, nilai-nilai, atau hal yang bersifat normatif. Sebuah hipotesis adalah sebuah pernyataan sementara dan belum terbukti yang harus diuji. Untuk dapat dibuktikan maka harus diuji. Untuk dapat diuji, maka harus dinyatakan sedemikian rupa hingga mungkin dilakukan pengujian.

Hipotesis dapat berasal dari beberapa sumber seperti pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sering kali hipotesis berasal dari penelitian yang telah dilakukan atau dari kepercayaan umum. Hipotesis juga dapat berasal dari analisis secara langsung terhadap data lapangan atau dideduksikan dari suatu teori tertentu.

Sesuatu hipotesis untuk dapat diuji membutuhkan klarifikasi. Hipotesis “seorang genius lebih banyak yang tidak bahagia” tidak dapat diuji hingga konsep kecerdasan dan kebahagiaan didefinisikan secara terukur pada tataran empiris.

 

2. Generalisasi Empiris

Generalisasi empiris merupakan suatu hubungan yang berasal dari proses induksi. Generalisasi empiris adalah sebuah pernyataan tentang suatu hubungan yang dikonstruksikan oleh pengobservasian pertama terhadap keberadaan suatu hubungan dan menggeneralisasikan dengan menyatakan bahwa hubungan yang diamati tersebut terdapat pada semua kasus atau kebanyakan kasus.

 

3. Komponen-Komponen Teori Aksiomatis: Postulat, Aksioma, Theorem

Walaupun proposisi tunggal seperti hipotesis atau generalisasi empiris dapat disebut dengan pernyataan teoritis atau minitheories, namun banyak peneliti lebih menerima istilah “theory” sebagai seperangkat dua atau lebih proposisi yang saling berhubungan. Bentuk yang umum dari seperangkat proposisi yang saling berhubungan adalah teori aksiomatis (axiomatic theory). Teori aksiomatis atau deduktif mengambil bentuk dasar dari silogisme deduktif, yaitu:

 

Proposisi 1: Jika A maka B

Proposisi 2: Jika B maka C

Jadi

Proposisi 3: Jika A maka C

 

Suatu pernyataan yang benar yang didapat dari deduksi pernyataan lain (Proposisi 3) disebut dengan aksioma atau postulat. Istilah aksioma dan postulat biasa digunakan saling menggantikan. Perbedaanya adalah bahwa “aksioma” memiliki konotasi matematis dan biasanya lebih sering digunakan untuk pernyataan yang benar per-definisi dan untuk proposisi-proposisi yang melibatkan konsep-konsep yang sangat abstrak. Sedangkan istilah “postulat” lebih sering digunakan untuk pernyataan yang memiliki kebenaran yang telah didemonstrasikan secara empiris. Sedangkan suatu proposisi yang dapat dideduksikan dari seperangkat postulat disebut dengan sebuah theorem.

 

III. Hubungan Bivariate

Hubungan bivariate dapat memiliki beberapa macam variasi, yaitu positif atau negatif, kekuatan hubungan, simetris (symmetrical) atau asimetris (asymmetrical), variabel bebas (independent) dan variabel tergantung (dependent), linear atau curvilinear, dan apakah hubungan tersebut spurious atau involves atas suatu intervening variabel.

 

A. Hubungan Positif – Negatif

Jika peningkatan nilai suatu variabel diikuti oleh peningkatan nilai variabel kedua, maka disebut positif. Demikian pula jika penurunan suatu variabel diikuti dengan penurunan variabel kedua. Hubungan positif terjadi jika variabel-variabel berubah secara sama. Sedangkan jika peningkatan suatu variabel diikuti dengan penurunan variabel lain disebut dengan negatif atau inversi. Jadi perubahan terjadi pada variabel-variabel tersebut berkebalikan.

 

B. Kekuatan Hubungan

Jika telah diketahui bahwa terdapat hubungan antara dua variabel, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa kuat hubungan tersebut? Konsepsi kekuatan hubungan lebih jelas jika berbicara masalah prediksi dari pada pada saat dua variabel berubah bersamaan. Dengan mengetahui nilai suatu variabel, maka dapat dibuat prediksi yang lebih akurat atas nilai variabel lain. Tingkat kebenaran suatu prediksi disebut dengan kekuatan hubungan. Pengukuran statistik atas kekuatan hubungan disebut koefisien korelasi (correlation coefficient). Koefisien korelasi disimbolkan dengan huruf r yang nilainya bervariasi antara –1.00, hingga + 1.00,. Nilai 0.00 berarti tidak ada hubungan atau prediksi nol persen akurat; sedangkan +1.00 berarti akurasi prediksi adalah 100 persen. –1.00 berarti 100 persen akurasi prediksi hubungan negatif antar variabel.

 

C. Hubungan Simetris dan Asimetris

Pembahasan yang telah dilakukan adalah dalam hubungan simetris antar variabel. Perubahan satu variabel diikuti dengan perubahan variabel lain. Dalam hubungan yang asimetris, perubahan variabel A diikuti oleh perubahan variabel B, tetapi tidak berlaku sebaliknya.

 

D. Variabel Bebas dan Variabel Tergantung

Dalam hubungan yang asimetris, variabel yang mampu mempengaruhi perubahan variabel lain disebut variabel bebas. Sedangkan variabel yang nilainya tergantung pada variabl lain dan tidak dapat mempengaruhi perubahan variabel lain tersebut, disebut variabel tergantung. Dalam hubungan sebab-akibat, penyebab adalah variabl bebas dan akibatnya adalah variabel tergantung. Dalam literatur statistik, hubungan simetris disamakan dengan eksplanasi, sedangkan hubungan asimetris disamakan dengan prediksi.

Pada umumnya variabel tergantung adalah yang akan dijelaskan dan vaiabel bebas adalah penjelasan dari hipotesis. Seringkali variabel bebas diketahui karena terjadi terlebih dulu dari pada variabel lain. Namun jika keduanya terjadi hampir bersamaan, akan sulit menentukannya.

 

E. Hubungan Sebab-Akibat

Penemuan hubungan antara dua atau lebih variabel tidak dengan sendirinya menyatakan bahwa hubungan tersebut adalah sebab-akibat. Hal ini bukanlah sekedar konsepsi yang logis tetapi juga dapat diterapkan dalam hubungan antara sesuatu yang kongkret atau empiris. Kita menyatakan bahwa X menyebabkan Y jika:

  1. Ada hubungan antara X dan Y.
  2. Hubungan tersebut asimetris sehingga perubahan X menghasilkan perubahan Y, namun tidak sebaliknya.
  3. Suatu perubahan X menghasilkan perubahan Y tanpa memperhatikan faktor-faktor lain.

 

Umumnya dinyatakan bahwa perubahan pada sebab (X) harus terjadi sebelum perubahan pada akibat (Y). Namun beberapa pengertian juga memungkinkan sebab dan akibat terjadi secara simultan. Tetapi tidak ada akibat yang mendahului sebab. Jadi rentang waktu sering menjadi jalan utama untuk menentukan faktor yang menjadi sebab dan manakah akibatnya.

Namun demikian, ada kemungkinan hubungan kausal terjadi secara simetris yang disebut dengan mutual causation. X menyebabkan Y dan secara simultan Y juga menyebabkan X. Keduanya menjadi sebab sekaligus akibat. Namun sebagian besar kasus adalah asimetris.

Masalah lain adalah kausalitas terkait dengan istilah necessary and sufficient conditions. X dikatakan sebagai necessary bagi akibat Y jika Y tidak pernah terjadi hingga X terjadi. X adalah sufficient bagi Y jika Y terjadi setiap kali X terjadi. Terdapat tiga kombinasi yang muncul dari kategori necessary and sufficient condition, yaitu: pertama, X adalah necessary tetapi tidak sufficient bagi Y. Dalam hal ini ada faktor lain yang harus ada sehingga X dapat menyebabkan Y.

Kedua, suatu faktor dapat menjadi sufficient tetapi tidak necessary. Hal ini berarti ada faktor lain yang menjadi sufficient condition terjadinya suatu akibat. Ketiga, X menjadi faktor yang necessary sekaligus sufficient secara simultan untuk terjadinya akibat Y. Ini adalah bentuk sebab akibat yang paling kuat. Y tidak akan pernah ada hingga X ada, dan akan selalu ada jika X ada. Ini adalah bentuk penyebab tunggal (unicausality).

 

F. Hubungan Linear – Nonlinear (Curvilinear)

Hubungan liner terjadi pada saat dua variabel bervariasi dalam tingkat yang sama, apakah dalam nilai yang rendah, tinggi atau pertengahan. Sedangkan hubungan nonlinear atau curvilinear tingkat perubahan suatu variabel berbeda dengan dalam nilai yang berbeda pada variabel lain.

 

G. Hubungan Spurious and Intervening

Kadang-kadang ditemukan bahwa hubungan antara dua variabel terlihat tidak benar-benar saling terkait. Namun, kedua variabel tersebut berhubungan dalam hal keduanya disebabkan oleh variabel ketiga, yang disebut dengan hubungan spurious. Kemungkinan yang lain adalah bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut disebabkan oleh suatu variabel penghubung (intervening variabel).

 

                         

H. Variabel Penekan (Suppresor Variabel) dan Variabel Peubah (Distorter Variabel)

Terdapat kemungkinan sebuah “hubungan spurious nol” dalam hal dua variabel yang sesungguhnya berhubungan terlihat tidak berhubungan karena masing-masing berkorelasi dengan variabel ketiga. Variabel inilah yang disebut dengan variabel penekan (suppresor variabel). Variabel penekan menekan hubungan dengan secara positif berhubungan dengan satu variabel dan secara negatif dengan variabel lain. Hubungan sesungguhnya akan muncul jika dilakukan kontrol terhadap variabel penekan. Variabel ketiga tersebut juga disebut dengan variabel peubah yang merubah hubungan antara dua variabel dalam berbagai macam cara.

 

IV. Pilihan Strategi untuk Memformulasikan Hipotesis dan Verifikasi

Walaupun terlihat mudah, namun terdapat kesulitan dalam mengknstruksikan dan menguji hipotesis. Kesulitan tersebut terletak pada proses yang melibatkan perpaduan antara teori dan data. Mengikuti Blalock, dapat dilakukan pemisahan antara level konseptual atau teori dan evel data atau empiris. Fenomena empiris adalah semua fenomena yang secara langsung dapat dideteksi dan diamati oleh cara observasi tertentu seperti sentuhan, pendengaran, dan penciuman. Suatu fenomenon sosial dapat diasumsikan terjadi pada masing-masing level. Terdapat konsep yang dapat dibandingkan secara empiris. Sebaliknya, fenomena empiris juga dapat dibandingkan secara konseptual.

Namun terdapat konsepsi yang mungkin terlalu abstrak sehingga sulit diukur secara empiris. Misalnya konsepsi keterasingan, autoritarianisme, intelegensi, ataupun ego. Untuk melakukan pengukuran dapat dilakukan melalui pendekatan kontruksi hipotesis (1) pendekatan klasik (the classical approach), (2) grounded theory, dan (3) strick operationalism.

 

A. Pendekatan Klasik

Pendekatan klasik terdiri dari tiga tahapan. Tahap pertama, terdiri atas pendefinisian konsepsi-konsepsi dan penulisan sebuah proposisi yang menyatakan sebuah hubungan diantaranya. Tahap ini secara keseluruhan berada pada level konseptual. Tahap kedua, menjembatani perbedaan antara level konseptual dengan level empiris. Pada tahap ini termasuk melengkapi cara-cara untuk mengukur konsepsi secara empiris dan menuliskan hipotesis yang terkait dengan pengukuran secara empiris atas kedua konsepsi. Hipotesis pada tahap 2 ini identik dengan proposisi pada tahap 1, hanya saja pada tahap 2 ada pada level empiris. Sedangkan pada tahap ketiga, adalah pengumpulan dan analisis data tambahan untuk memverifikasi hipotesis.

Ukuran-ukuran empiris dari masing-masing konsepsi dapat disebut dengan indikator, ukuran, skala, indeks, atau definisi operasional. Hal ini tergantung pada bentuk dan konsteks yang digunakan. Hubungan antara level konseptual dan empiris secara umum disebut dengan korelasi epistemic. Hal tersebut tidak dapat diukur secara langsung tetapi dengan asumsi. Kesalahan pengukuran adalah bahaya utama dalam pendekatan klasik. Karena adanya kemungkinan kesalahan, hipotesis dapat disusun dengan kemungkinan perubahan jika dibutuhkan yang disebut dengan hipotesis kerja (a working hypothesis).

 

 

B. Grounded Theory

Grounded theory adalah teori yang ditemukan atau didapatkan dari data-data dari pada dari sesuatu yang abstrak dan tentatif. Grounded theory dibangun oleh: (1) memasukan tahapan penelitian lapangan tanpa sebuah hipotesis, (2) mendeskripsikan apa yang terjadi, dan (3) memformulasikan eksplanasi tentang mengapa terjadi berdasarkan observasi. Teori yang dapat digunakan adalah yang menggunakan konsep-konsep yang siap diterapkan pada data yang dipelajari. Teori harus dapat menjelaskan perilaku yang dipelajari.

Grounded theory jika dibandingkan dengan pendekatan klasik, tahapannya menyatukan antara tahapan 2 dan 3. Hipotesis yang digunakan adalah yang berasal dari data. Dengan demikian tahapan verifikasi tidak diperlukan.

 

C. Operasionalism

Operasionalism adalah tata cara yang dibuat untuk mengukur sebuah konsep. Dalam pandangan ini, konsep terkait dengan seperangkat tata cara. Operasionalism biasanya membutuhkan pengukuran secara kuantitatif atas konsep. Menurut pandangan strick operasionalism, konsep harus dibuat sehingga dapat diukur. Jika tidak, maka tidak ada gunanya dalam penelitian. Strick operasionalism bersifat sangat pragmatis. Strick operasionalism tidak mengenal masalah kesalahan pengukuran. Inilah yang kemudian banyak memunculkan kritik terhadap strick operasionalism.

 

Diantara ketiga pendekatan tersebut, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut; Pendekatan Klasik kelebihannya (1) Komplet, semua tahapan ada, teorisasi dan analisis data terakomodasi secara maksimum, dan (2) dapat menggunakan konsepsi abstrak yang tergeneralisasi dan dapat memakai kekuatan konsep deduktif. Kelemahannya adalah kemungkinan adanya kesalahan pengukuran jika ukuran yang digunakan tidak mewakili konsep abstrak. Ada juga kritik yang dikemukakan (juga kepada grounded theory) yaitu terlalu menekankan pada deduksi dan verikasi sebagai sebuah kelemahan.

Kelebihan utama dari pendekatan grounded theory adalah probabilitas kesalahan pengukuran dapat dikurangi. Hal ini karena konsep merupakan cermin dari data yang diobservasi secara empiris. Kelemahannya adalah penekanan pada konsep yang diderivasi secara empiris membuat kesulitan untuk menggunakan konsep yang abstrak dan hal ini membatasi teorisasi. Disamping itu, data yang di dapat di suatu tempat mungkin sulit untuk digeneralisasi pada tempat lain.

Kelebihan operasionalism adalah tidak adanya kesalahan pengukuran, per-definisi. Kelemahannya adalah bahwa konsep-konsep abstrak yang tidak dapat didefiniskan secara operasional tidak dimungkinkan.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: