sakuntalla


The Origin of the Family, Private Property and the State
April 11, 2008, 12:19 pm
Filed under: 51975

Buku ini mengetengahkan gambaran sejarah masyarakat dari jaman barbar hingga peradaban modern. Aspek yang menjadi perhatian utama adalah perkembangan keluarga, model perkawaninan dan pengaruhnya terhadap sistem kekerabatan dan pewarisan yang pada akhirnya menimbulkan pemilikan pribadi dan timbulnya negara.

Landasan buku ini adalah pada hasil penelitian tentang etnologi dan sejarah masyarakat yang dilakukan oleh Morgan dan analisis kepemilikan pribadi yang dilakukan oleh Karl Marx. Perkembangan peradaban prahistoris secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu; tahap Savagery (liar/buas), tahap Barbarisme, dan tahap Civilizaton (beradab). Adapun penjelasan dari masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut:

 

A.    Savagery

Merupakan periode di mana manusia memerima hasil yang diberikan oleh alam. Karya seni merupakan alat untuk membantu penerimaan tersebut. Savagery dibagi menjadi tiga masa perkembangan yaitu Lower Stage, Middle Stage, dan Upper Stage.

Lower Stage adalah periode manusia hidup dalam habitat aslinya di hutan-hutan tropis dan sub tropis. Mereka membuat rumah pohon untuk bertahan dari serangan binatang buas. Makanan mereka adalah buah-buahan, kacang-kacangan dan akar-akaran. Tidak ada bukti yang kuat untuk menggambarkan masa ini. Pada periode inilah manusia mulai berbicara dengan bahasa tertentu.

Middle Stage dimulai pada saat telah dimanfaatkannya ikan sebagai makanan dan penggunaan api. Dengan sumber ini manusia menjadi lebih tidak terikat dengan cuaca dan tempat tinggal. Hal ini juga menyebabkan distribusi penduduk tersebar di daerah aliran sungai dan di sekitar pantai. Jaman ini dikenal dengan “paleoliths” (batu) karena penggunaan batu aji kasar sebagai alat dalam bekerja. Pada masa ini juga ditemukan banyak makanan baru dari akar-akaran dan umbi-umbian yang kemudian dipanggang dalam abu atau tanah yang panas. Alat lain yang ditemukan adalah pentungan dan tombak yang sering dijadikan permainan dan taruhan. Pada masa ini kanibalisme mulai muncul dan berlanjut dalam waktu yang lama.

Upper Stage adalah masa yang ditandai dengan penemuan busur dan anak panah yang kemudian menjadi alat utama dalam mencari makanan dan berburu menjadi pekerjaan pokok. Manusia berkembang semakin pandai dan berpengalaman. Pada periode ini mulai membuat tempat tinggal tetap dan mengontrol aktivitas produksi. Pada masa ini dijumpai bejana-bejana dari kayu, perkakas rumah tangga, tenunan tangan dan peralatan batu yang telah ditajamkan. Dengan ditemukannya api dan kapak baru, pembuatan perahu menjadi biasa. Balok kapal dan papan juga telah digunakan untuk membangun rumah.

 

B.     Barbarism

Periode pada masa manusia belajar untuk mengembangbiakkan hewan dan mempraktekkan pertanian. Pada masa ini ditemukan cara-cara yang dilakukan manusia untuk meningkatkan persediaan hasil alam.

Lower Stage dimulai saat dikenal barang-barang keramik (pottery) yang dibuat dari tanah liat (clay) yang dibentuk dan dibakar. Karakteristik utama dari masa ini adalah mulai dijinakkan, dipelihara, dan diternakkannya hewan-hewan, serta penanaman tumbuhan.

Middle Stage mulai terjadi di Eastern Hemisphere dengan penjinakkan binatang di timur, dan di bagian barat dengan penanaman, irigasi serta penggunaan bata dan batu untuk bangunan. Mereka hidup di rumah kayu di desa yang dikelilingi oleh pagar kayu runcing.

Pada masa ini, di bagian timur Hemisphere ditandai dengan peternakan yang menyediakan daging dan susu, sedangkan tanaman hortikultur belum di kenal. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan antara suku Aryan dan Semit pada masa Barbar. Ketersediaan daging dan susu mempengaruhi pertumbuhan yang lebih pada ras Aryan dan Semit. Hal ini berbeda dengan ras Pueblo Indian yang hampir seluruhnya vegetarian sehingga memiliki otak yang lebih kecil dibanding dengan ras Indian sebelumnya yang mengkonsumsi lebih banyak daging dan ikan. Kanibalisme pada masa ini mulai menghilang, kecuali dalam aktivitas relijius.

Upper stage ditandai dengan adanya peleburan biji besi, dan menuju peradaban dengan ditemukannya tulisan alphabet yang digunakan untuk catatan tertulis. Populasi berkembang cepat, suatu wilayah yang kecil menjadi semakin padat.

 

C.     Civilization

Periode saat manusia mengetahui cara yang lebih maju untuk mengelola hasil alam. Periode ini merupakan periode munculnya industri yang besar dan karya-karya seni.

 

Sejarah Keluarga

Konsepsi keluarga pada mulanya adalah keluarga kekerabatan. Studi terhadap sejarah primitif menunjukkan kondisi bahwa laki-laki hidup ber-poligami, dan perempuan ber-poliandri. Semua anak adalah anak bagi semuanya. Kondisi ini berkembang dan berlanjut dengan berbagai perubahan yang pada akhirnya menjadi perkawinan monogami.

Morgan sependapat dengan sejarahwan lain bahwa pada tahap primitif kebebasan seksual tidak terbatas, setiap perempuan adalah sama-sama milik setiap laki-laki, dan setiap laki-laki adalah milik setiap perempuan. Morgan menyebutnya dengan istilah “hetaerism”  yang mungkin merupakan cikal bakal prostitusi. Bentuk ini disebut oleh Engels dengan istilah “perkawinan kelompok”. Dan kemudian menjadi perkawinan monogami.

“Perkawinan kelompok” adalah  bentuk keluarga di mana semua kelompok laki-laki dan semua kelompok perempuan saling memiliki, dan hanya menyisakan sedikit tempat untuk kecemburuan. Kebebasan tidak hanya antara saudara laki-laki dan saudara perempuan, tetapi juga antara orang tua dan anak (incest). 

Iroquois Indian menyebut “anak” bukan hanya anaknya sendiri, tetapi juga semua anak-anak saudara laki-lakinya, dan anak-anak itu memanggilnya “bapak”. Namun terhadap anak dari saudara perempuan, dia memanggilnya “keponakan”. Panggilan-panggilan tersebut merupakan ekspresi dari konsepsi kedekatan dan jarak.

 

1.      Keluarga Kekerabatan, Tahap Awal dari Keluarga

Pada masa ini perkawinan dilakukan secara berkelompok kecuali antara penurun dan keturunan. Semua kakek adalah dan nenek adalah suami-istri, semua anak-anaknya adalah ayah dan ibu. Demikian pula anak-anaknya adalah suami dan istri. Semua saudara laki-laki dan perempuan, semua sepupu laki-laki dan perempuan adalah saudara. Maka semua saudara dan keponakan adalah suami atau istri. Menurut Marx, saudara perempuan adalah istri pada masa primitif  merupakan hal yang sesuai dengan moral.

 

2.      Keluarga Punaluan

Jika pada tahap awal larangan perkawinan adalah antara orang tua dan anak, maka selanjutnya yang dilarang adalah antara saudara laki-laki dengan saudara perempuan, dan berlanjut pada larangan perkawinan antara saudara kolateral. Hal ini mengakibatkan terpecahnya keluarga utama. Praktek kehidupan bersama dalam masyarakat komunistik primitif menjadi terbatas menjadi masyarakat keluarga-keluarga. Satu saudara menjadi inti dari satu keluarga baru. Keluarga Punaluan menandai berakhirnya keluarga kekerabatan.

Namun demikian masih terdapat perkawinan kelompok secara terbatas. Suami dari saudara perempuan ibu adalah suami ibu juga dan istri dari saudara laki-laki ayah adalah istrinya juga. Dengan demikian anak dari saudara laki-laki ibu dan anak dari saudara perempuan bapak bukan merupakan saudara lagi. Mereka tidak dapat lagi memiliki orang tua bersama-sama.

Perkawinan kelompok menyebabkan seorang anak tidak memiliki Bapak yang jelas, tetapi memiliki ibu yang jelas. Maka keturunan hanya bisa dibuktikan melalui garis ibu, dan karena itu hanya garis keturunan perempuan yang diakui, atau yang sering disebut dengan “mother right”.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: